Beberapa bulan yang lalu saat saya akan memulai menuliskan naskah Rumah dan Musim Hujan, saya membuat sebuah pooling di blog pribadi saya untuk membantu proses development penulisan draft pertama. Berikut beberapa komentar tentang “Musim Hujan” :
Aku pernah punya frase :
/rumah yang kesepian/
/karena hujan tak pernah mampir/
buatku hujan menjadi sangat menyenangkan saat aku di sebuah ruang dengan jendela kaca. Aku aman di dalamnya dan air hujan pun masih sangat nyaman berjatuhan tanpa harus sungkan membasahiku…
(Anggie Noen-Sutradara)
musim hujan berarti hidup bersama anjing saya yang bau, karena bulu tebalnya tidak bisa dikeringkandengan hair dryer. dia mencintai matahari. musim hujan berarti berjalan di sepanjang lorong kecil sambil menangis, karena tidak akan ada orang yang bertanya kenapa. musim hujan berarti mengenang nenek saya,yang selalu bilang:seperti kerbau, dimana kau berkubang, disitu kau senang!
(Elida Tamalagi-Gadis Penjual Teh)
hujan di luar rumah cuma terdengar. kalau beruntung bisa juga tercium baunya.
hujan di luar rumah tidak enak dilihat. selalu mendongak ke atap, atau ke ember. air menitik ke dalam ember, terdengar tidak sedap.
hujan di dalam mobil, sore hari menjelang gelap, di radio apapun jadi enak terdengar. jalanan macet. wiper di posisi 1. lampu mobil depan kadang fokus kadang tidak.
hujan di atas motor. sore hari, jangan terlalu gelap. jalanan boleh macet. jenis hujan langka, gerimis tipis sekali, lembut seperti hujan kabut, dibelakangnya ada matahari. baunya pasti enak.
(Edwin-Lelaki Penjual Sandal)
Hujan buat seorang Tegar berarti persekutuan alam atas rasa kehilangan.
Bapaknya slalu bilang: haram laki-laki berhujan tangis!
Tapi tidak pagi ini: ketika matahari mengintip ranjang pengantin Kasih di Jogja;
sementara gelap menggantung di atas Jakarta, dimana Tegar berlari, berlari! Dadanya hampir meledak, tapi Bapak bilang: haram laki-laki berhujan tangis!
Tapi langit berkenan atas rasa kehilangannya. Air berjatuhan tiba-tiba! Tegar berlari terus berlari!Tak seorang pun tau tubuhnya juga diguyur air mata.
Langit mengajarkan kebijaksanaan: jangan kau simpan rasa yang membuatmu berat.
Lalu waktu berlalu~
Kali ini giliran Tegar mengajarkan kebijaksanaan:
“Bapak, berhujan tangislah bersama anakmu untuk kehilangan terbesar kita; ibuku.”
(Ri – Lelaki misterius)
hujan meluruhkan dan melelapkan kemarahan dan kekerasan, sebaliknya dia me”rumah”kan yang tercerai-berai dan menstrukturkan kembali…
tiada suasana yang lebih hangat dan nyaman selain di rumah ketika hujan..
(thearickackoi)
hujan. romantis untukku tapi gak untuk joedith dan budi yang harus pulang rumah naik motor. tiap kali hujan, aku yang asli bandung bilang asikkkk hujan, ntar malem gak panas. sedangkan joedith yg dari purwokerto dan hampir tiap minggu meriang itu cuma bisa narik napas panjang yahhhhhhh. hihi.
(Ariani Darmawan-Pengembara)
Hujan tidak pernah menimbang-nimbang
hujan tidak perlu berpikir untuk menarik kesimpulan
Hujan adalah bahasa alam …
dapat diketahui manusia tanpa harus mempelajarinya selangkah demi selangkah (taken from http://kamerat.wordpress.com/)
(Ratna-Gadis penggesek biola)
membuatku bisa buatku memeluk kekasih,
hingga hangat menelusup dalam diam yg murung.
(Atmo-Lelaki yang selalu patah hati)
hujan itu adalah penanda waktu, untuk menutup pintu, membuka daun jendela, dan menikmati air yang membentuk alur cacing di kaca jendela…
(Kuntz-Calon Dokter Hewan)